Tuesday, January 29, 2019

Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit

Hasil gambar untuk pelayanan kefarmasian di rumah sakit
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat termasuk pelayanan farmasi klinik.
Pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait obat. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu pelayanan kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care).
Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit dinyatakan bahwa rumah sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan. Persyaratan kefarmasian harus menjamin ketersediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang bermutu, bermanfaat, aman, dan terjangkau. Selanjutnya dinyatakan bahwa pelayanan sediaan farmasi di rumah sakit harus mengikuti standar pelayanan kefarmasian yang selanjutnya diamanahkan untuk diatur dengan peraturan menteri kesehatan.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang  pekerjaan kefarmasian juga dinyatakan bahwa dalam menjalankan praktek kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian, apoteker harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian yang  diamanahkan untuk diatur dengan peraturan menteri kesehatan.
Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut dan perkembangan konsep pelayanan kefarmasian, perlu ditetapkan suatu standar pelayanan kefarmasian dengan peraturan menteri kesehatan, sekaligus meninjau kembali Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang standar pelayanan farmasi di rumah sakit.
Prosedur Pelayanan Farmasi
  1. Bagi Pasien Rawat Inap
    • Petugas depo farmasi menerima resep dan CPO dari ruang perawatan.
    • Petugas depo farmasi melakukan telaah resep pada tahap awal.
    • Petugas Farmasi menyiapkan obat dan alat kesehatan habis pakai,dengan ketentuan untuk obat oral disipkan untuk pemakaian 3 hari, untuk cairan infus, obat injeksi dan alkes disiapkan untuk pemakaian 1 hari.
    • Petugas depo farmasi melayani resep jaminan (BPJS) berpedoman pada Formularium Nasional, Formularium Rumah sakit.
    • Petugas depo farmasi melakukan konfirmasi ke dokter jika penulisan resep tidak jelas, dan jenis obat dan alkes yang diresepkan tidak tersedia.
    • Petugas depo farmasi mengantar obat dan alat medis habis pakai mengantar ke ruang perawatan,sebelum obat dan alat medis habis pakai diserahkan petugas depo farmasi melakukan telaah resep tahap akhir dan memeriksa kesesuai jumlah perbekalan farmasi yang akan diserahkan bersama CPO ke Perawat, kemudian perawat paraf pada kolom penerima resep.
    • Petugas depo farmasi menyimpan obat dan alat medis habis pakai pasien pada container penyimpanan bahan farmasi pasien.
    • Petugas Farmasi membawa kembali resep dan diserahkan pada operator pengimputan resep.
    • Petugas Farmasi menarik obat dan alat medis habis pakai dari ruang perawatan jika atas instruksi dokter obat dan alat kesehatan tersebut dihentikan penggunaannya.
    • Petugas farmasi memberi catatan retur pada CPO untuk obat yang ditarik dari ruang perawatan. Selanjutnya dientry pada computer.
  2. Bagi Pasien Rawat Jalan
    • Resep datang dari counter rawat jalan.
    • Sebelum menyiapkan resep, asisten apoteker wajib memeriksa kelengkapan resep sebagai berikut:
      • Tanggal penulisan resep
      • Nama dokter
      • Surat izin dokter
      • Nama obat, jenis obat (tablet, kapsul, sirup, atau injeksi) dan jumlah obat.
      • Cara pembuatan (obat diracik atau tidak)
      • Signa (aturan pakai)
      • Nama pasien
      • Umur pasien
      • Alamat pasien
    • Selesai memeriksa resep, petugas farmasi yang menerima resep member stempel HTKP (Harga, Timbang, Kemas, Penyerahan) pada resep, menulis nama dan membubuhi paraf pada kolom H.
    • Jika ada obat racikan, dihitung sesuai dengan dosis. Selesai meracik obat, petugas yang meracik menulis nama dan membubuhi paraf di kolom T.
    • Obat disiapkan sesuai dengan resep.
    • Obat diberi etiket sesuai dengan resep dokter. Petugas yang memberi etiket pada obat menulis nama dan membubuhi paraf pada kolom K.
    • Sebelum obat diserahkan, petugas yang menyerahkan obat meneliti kembali obat yang telah disiapkan sesuai dengan resep serta dikonfirmasi ulang data pasien tersebut, seperti:
      • No. DO bill
      • Nama pasien
      • Alamat
      • Jaminan umum atau perusahaan
    • Obat diserahkan dan menjelaskan kepada penerima obat mengenai:
      • Aturan pakai
      • Cara pakai
      • Cara penyimpanan obat
    • Meminta nomor telepon pasien untuk dokumentasi farmasi.
    • Petugas yang menyerahkan obat menuliskan nama dan membubuhi paraf di kolom P.
Tujuan Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Adapun tujuan pelayanan farmasi di rumah sakit menurut keputusan menteri kesehatan adalah sebagai berikut:
1.    Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia;
2.    Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi;
3.    Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat;
4.    Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku;
5.    Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan;
6.    Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan;
7.    Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda.
Fungsi Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
Adapun fungsi pelayanan farmasi di rumah sakit menurut keputusan menteri kesehatan
adalah sebagai berikut:
1.         Pengelolaan perbekalan farmasi, meliputi:
a.    Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit.
b.    Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal.
c.    Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku.
d.   Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
e.    Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku.
f.     Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian.
g.    Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit.
2.    Pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan, meliputi:
a.    Mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien.
b.    Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan.
c.    Mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat dan alat kesehatan.
d.   Memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan.
e.    Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga.
f.     Memberi konseling kepada pasien/keluarga.
g.    Melakukan pencampuran obat suntik.
h.    Melakukan penyiapan nutrisi parenteral.
i.      Melakukan penanganan obat kanker.
j.      Melakukan penentuan kadar obat dalam darah.
k.    Melakukan pencatatan setiap kegiatan.
l.      Melaporkan setiap kegiatan.

Standar Pelayanan Farmasi
Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolak ukur yang
dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek telah mensyaratkan apotek
harus memiliki : ruang tunggu yang nyaman bagi pasien, tempat
untuk mendisplai informasi bagi pasien (termasuk penempatan
brosur/materi informasi), ruangan tertutup untuk konseling bagi
pasien yang dilengkapi dengan meja dan kursi serta lemari untuk
menyimpan catatan medikasi pasien, keranjang sampah yang
tersedia untuk staf maupun pasien, dan ruang racikan.


Sejarah Perkembangan Farmasi di Indonesia

Hasil gambar untuk perkembangan farmasi di indonesia
Apakah sahabat mengetahui bagaimana awal mulanya kefarmasian di Indonesia? Hal ini berpacu pada jaman dahulu kala. Farmasi ini berasal dari kata Pharma. Farmasi merupakan istilah yang dipakai pada tahun 1400-1600an. Dalam bahasa inggris Farmasi adalah pharmacy, sedangkan dalam bahasa yunani adalah pharmacon, yang artinya obat. Farmasi merupakan salah satu bidang ilmu professional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan, ilmu fisika, dan ilmu kimia. Yang mempunyai tanggung jawab untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan penggunaan obat. Menurut kamus, farmasi adalah seni dan ilmu meracik dan menyerahkan atau membagikan obat. Sedangkan farmasis adalah seseorang yang meracik dan menyerahkan atau membagikan obat. Menurut kamus lainnya farmasi adalah seni atau praktek penyiapan, pengawetan, peracikan dan penyerahan obat ( Webster’s New Collegiate Dictionary. SpringField, MA, G. & C. Merriam Co, 1987 ).
Menurut Smith dan Knapp, seorang farmasis adalah seseoarang yang telah lulus dari perguruan tinggi farmasi. Untuk melakukan praktek farmasi, seorang lulusan harus memperoleh izin/lisensi dari suatu dewan atau badan negara bagian. Agar supaya mendapat izin/lisensi, lulusan suatu pergurun tinggi farmasi di seluruh negara bagian atau daerah disyaratkan untuk menyelesaikan persyaratan pengalaman praktek dan untuk lulus ujian yang diselenggarakan oleh badan farmasi negara.
Berbagai konsep dasar dan teori dalam ilmu fisiologi, patologi, farmakologi, farmakognosi, fitokimia, kimia analisis, kimia sintesis, kimia medisinal, farmasetika/formulasi obat dapat ditemukan pada tiap jaman dalam sejarah perkembangan kefarmasian. Mitologi, konsep dan praktek pengobatan, praktisi/profesi pengobatan, bentuk sediaan obat serta bahan obat di berbagai jaman atau di suatu kebudayaan tertentu ternyata tidak hanya mendasari dan mempengaruhi perkembangan ilmu kefarmasian dan ilmu kedokteran saat ini, namun mendasari dan mempengaruhi perkembangan ilmu pengobatan tradisional di suatu suku bangsa tertentu, bahkan beberapa konsep dasar masih dipakai dalam sistem pengobatan tersebut.
Ruang lingkup farmasi sangatlah luas termasuk penelitian, pembuatan, peracikan, penyediaan sediaan obat, pengujian, serta pelayanan informasi obat. Farmasi sebagai profesi di Indonesia sebenarnya relatif masih muda dan baru dapat berkembang secara berarti setelah masa kemerdekaan. Pada zaman penjajahan, baik pada masa pemerintahan Hindia Belanda maupun masa pendudukan Jepang, kefarmasian di Indonesia pertumbuhannya sangat lambat, dan profesi ini belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Sampai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, para tenaga farmasi Indonesia pada umumnya masih terdiri dari asisten apoteker dengan jumlah yang sangat sedikit.
Awal mulanya muncul kefarmasian, berbagai aspek dan perkembangan ilmu kefarmasian didasarkan urutan sejarah farmasi yang seharusnya dimulai dari zaman pra sejarah, zaman Babylonia-Assyria, zaman Mesir kuno, zaman Yunani kuno dan zaman abad pertengahan. Namun kali ini hanya membahas bagaimana sejarahnya farmasi yang berkembang di Indonesia. Mula – mula dari periode zaman penjajahan sampai perang kemerdekaan, kemudian setelah perang kemerdekaan sampai tahun 1958 serta pada periode tahun 1958 – 1967.
Periode Zaman Penjajahan sampai Perang Kemerdekaaan
Tonggak sejarah kefarmasian di Indonesia pada umumnya diawali dengan pendidikan asisten apoteker semasa pemerintahan Hindia Belanda.
Periode Setelah Perang Kemerdekaan Sampai dengan Tahun 1958
Pada periode ini jumlah tenaga farmasi, terutama tenaga asisten apoteker mulai bertambah jumlah yang relatif lebih besar. Pada tahun 1950 di Jakarta dibuka sekolah asisten apoteker Negeri (Republik) yang pertama , dengan jangka waktu pendidikan selama dua tahun. Lulusan angkatan pertama sekolah asisten apoteker ini tercatat sekitar 30 orang, sementara itu jumlah apoteker juga mengalami peningkatan, baik yang berasal dari pendidikan di luar negeri maupun lulusan dari dalam negeri.
Periode Tahun 1958 sampai dengan 1967
Pada periode ini meskipun untuk memproduksi obat telah banyak dirintis, dalam kenyataannya industri-industri farmasi menghadapi hambatan dan kesulitan yang cukup berat, antara lain kekurangan devisa dan terjadinya sistem penjatahan bahan baku obat sehingga industri yang dapat bertahan hanyalah industri yang memperoleh bagian jatah atau mereka yang mempunyai relasi dengan luar negeri. Pada periode ini, terutama antara tahun 1960 – 1965, karena kesulitan devisa dan keadaan ekonomi yang suram, industri farmasi dalam negeri hanya dapat berproduksi sekitar 30% dari kapasitas produksinya. Oleh karena itu, penyediaan obat menjadi sangat terbatas dan sebagian besar berasal dari impor. Sementara itu karena pengawasan belum dapat dilakukan dengan baik banyak terjadi kasus bahan baku maupun obat jadi yang tidak memenuhi persyaratan standar.Sekitar tahun 1960-1965, beberapa peraturan perundang-undangan yang penting dan berkaitan dengan kefarmasian yang dikeluarkan oleh pemerintah antara lain :
  • Undang-undang Nomor 9 tahun 1960 tentang Pokok – pokok Kesehatan
  • Undang-undang Nomor 10 tahun 1961 tentang Barang
  • Undang-undang Nomor 7 tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan
  • Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1965 tentang Apotek. Pada periode ini pula ada hal penting yang patut dicatat dalam sejarah kefarmasian di Indonesia, yakni berakhirnya apotek dokter dan apotek darurat.
Dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 33148/Kab/176 tanggal 8 Juni 1962, antara lain ditetapkan :
  •  Tidak dikeluarkan lagi izin baru untuk pembukaan apotek-dokter, dan
  • Semua izin apotek-dokter dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 1 Januari 1963.
Sedangkan berakhirnya apotek darurat ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 770/Ph/63/b tanggal 29 Oktober 1963 yang isinya antara lain :
  •  Tidak dikeluarkan lagi izin baru untuk pembukaan apotek darurat,
  • Semua izin apotek darurat Ibukota Daerah Tingkat I dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 1 Februari 1964, dan
  • Semua izin apotek darirat di ibukota Daerah Tingkat II dan kota-kota lainnya dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 1 Mei 1964.Pada tahun 1963, sebagai realisasi Undang-undang Pokok Kesehatan telah dibentuk Lembaga Farmasi Nasional.
  • Tokoh - Tokoh yang Berjasa dalam Pengembangan Kefarmasian
  • Dimulai pada abad ke-9, tanah Arab dan Islam berhasil membangun jembatan ilmu yang menghubungkan antara sumbangan Yunani dengan dunia farmasi modern sekarang ini. Tahap ilmu yang diperoleh dari Yunani terus ditingkatkan dan usaha ini diteruskan hingga abad ke-13 melalui berbagai karya, Peningkatan ilmu pada zaman-zaman berikutnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, farmasi dipraktekkan secara terpisah dari profesi medis yang lain. Puncak sumbangan dunia Arab-Islam dalam farmasi dicapai dengan siapnya satu panduan cara meracik obat pada tahun 1260.
    2.5.1 Ibnu Al-Baitar
    Lewat risalahnya yang berjudul Al-Jami fi Al-Tibb ( Kumpulan Makanan dan Obat-obatan yang Sederhana ), beliau turut memberi kontribusi dalam dunia farmasi. Di Dalam kitabnya itu, dia mengupas beragam tumbuhan berkhasiat obat ( sekarang lebih dikenal dengan nama herbal ) yang berhasil dikumpulkannya di sepanjang pantai Mediterania. Lebih dari dari seribu tanaman obat dipaparkannya dalam kitab itu. Seribu lebih tanaman obat yang ditemukannya pada abad ke-13 M itu berbeda dengan tanaman yang telah ditemukan ratusan ilmuwan sebelumnya. Tak heran bila kemudian Al-Jami fi Al-Tibb menjadi teks berbahasa Arab terbaik yang berkaitan dengan botani pengobatan. Capaian yang berhasil ditorehkan Al-Baitar melampaui prestasi Dioscorides. Kitabnya masih tetap digunakan sampai masa Renaisans di Benua Eropa.
    2.5.2 Abu Ar-Rayhan Al-Biruni (973 M – 1051 M)
    Al-Biruni mengenyam pendidikan di Khwarizm. Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya, seperti astronomi, matematika, filsafat dan ilmu alam. Ilmuwan Muslim yang hidup di zaman keemasan Dinasti Samaniyaah dan Ghaznawiyyah itu turut memberi kontribusi yang sangat penting dalam farmasi. Melalui kitab As-Sydanah fit-Tibb, Al-Biruni mengupas secara lugas dan jelas mengenai seluk-beluk ilmu farmasi. Kitab penting bagi perkembangan farmasi itu diselesaikannya pada tahun 1050 M – setahun sebelum Al-Biruni tutup usia. Dalam kitab itu, Al-Biruni tak hanya mengupas dasar-dasar farmasi, namun juga meneguhkan peran farmasi serta tugas dan fungsi yang diemban seorang farmasis.
    2.5.3 Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
    Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami‟ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Kitab tersebut memaparkan tentang pendekatan metodologi eksperimen, serta observasi dalam bidang farmasi.
    2.5.4 Al-Razi
    Sarjana Muslim yang dikenal di Barat dengan nama Razes itu juga ikut andil dalam membesarkan bidang farmasi. Al-Razi memperkenalkan penggunaaan bahan kimia dalam pembuatan obat - obatan seperti pada obat-obatan kimia sekarang.
    2.5.5 Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
    Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia ( farmakope ). Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin. dalam kitabnya beliau memberikan resep kedokteran tentang kaedah dan teknik meracik obat, tindakan farmakologisnya dan dosisnya untuk setiap penggunaan. formula ini ditulis untuk ahli - ahli farmasi selama hampir 200 tahun.
    2.5.6 Ibnu Sina
    Dalam kitabnya yang fenomenal, Canon of Medicine, Ibnu Sina juga mengupas tentang farmasi. Ia menjelaskan lebih kurang 700 cara pembuatan obat dengan kegunaannya. Ibnu Sina menguraikan tentang obat-obatan yang sederhana.
    2.5.7 Al-Zahrawi
    Bapak ilmu bedah modern ini juga ikut andil dalam membesarkan farmasi. Dia adalah perintis pembuatan obat dengan cara sublimasi dan destilasi.
    2.5.8 Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M – 857 M)
    Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik. Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.
    2.5.9 Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at-Tabari
    At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu‟tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmasi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya. 
    Beliau adalah anak dari seorang apoteker. Hunayn diantar ke Baghdad, yang pada masa itu merupakan pusat pendidikan Islam terpenting untuk mengikuti pendidikan dalam perawatan. Hunayn memainkan peranan yang penting dalam penterjemahan atau penentuan ketepatan terjemahan yang dilakukan (termasuk penulis Hippocrate, Gelen dan penulis Yunani lain) di samping menulis buku-bukunya sendiri. Antara buku dan tulisan Hunayn adalah tentang aspek kebersihan mulut, pecuci dan penggunaan bahan-bahan pergigian.
    Mereka adalah para tokoh Islam yang sangat berjasa pada dunia kesehatan khususnya Ilmu kefarmasian dan kedokteran, hasil penemuan dan buku-buku yang ditulis merupakan cikal bakal penelitian bidang farmasi setelah zaman mereka sampai sekarang. Semoga bermanfaat
    MOMENTUM PERKEMBANGAN KEFARMASIAN
    ·         Pada tahun 1240, Kaisar Frederick II mengeluarkan maklumat ( Magna Carta ) untuk memisahkan ilmu farmasi dan kedokteran, sehingga masing-masing ahli mempunyai kesadaan, standar etik, pengetahuan dan keterampilan sendiri.
    ·         Pd thn 1453 Konstantinopel ( Istambul ) jatuh ke tangan Turki  akademisi Yunani kuno ke Barat dgn membawa buku2 & pengetahuannya
    ·         Obat2 baru dari dunia baru ( Columbus & Vasco da Gama ) mulai masuk
    ·         Mesin cetak  Johann Gutenberg  meningkatnya studi ttg tanaman obat
    ·         Valerius Cordus ( 1515 - 1544 ) menulis Dispensatorium  standar yg resmi u/ pembuatan obat - obatan di Nuremberg  farmakope ( pharmacopoeia ) yg pertama

Mengenal Dunia Farmasi

Farmasi berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti obat atau racun. Sedangkan pengertian farmasi adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan, pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan, informasi obat dan distribusi obat. 
Ilmu farmasi awalnya berkembang dari para tabib dan pengobatan tradisional yang berkembang di Yunani, Timur-Tengah, Asia kecil, Cina, dan Wilayah Asia lainnya. Mulanya "ilmu pengobatan" dimiliki oleh orang tertentu secara turun-temurun dari keluarganya. Bila kamu sering nonton film Cina, pasti banyak kalian lihat para tabib yang mendapatkan ilmunya dari keluarga secara turun-temurun. Itu gambaran "ilmu farmasi" kuno di Cina. Kalau di Yunani, yang biasanya dianggap sebagai tabib adalah pendeta. Dalam legenda kuno Yunani, Asclepius, Dewa Pengobatan menugaskan Hygieia untuk meracik campuran obat yang ia buat. Oleh mmasyarakatt Yunani Hygiea disebut sebagai apoteker (Inggris : apothecary). Sedangkan di Mesir, paktek farmasi dibagi dalam dua pekerjaan, yaitu : Yang mengunjungi orang sakit dan yang bekerja di kuil menyiapkan racikan obat.
Buku tentang bahan obat2an pertama kali ditulis di Cina sekitar 2735 SM, kemudian sekitar tahun 400 SM berdirilah sekolah kedokteran di Yunani. Salah seorang muridnya adalah Hipocrates yang menempatkan profesi tabib pada tataran etik yang tinggi. Ilmu farmasi secara perlahan berkembang. Di dunia Arab pada abad VIII, ilmu farmasi yang dikembangkan oleh para ilmuawan Arab menyebar luas sampai ke Eropa. Pada masa ini sudah mulai dibedakan peran antara seorang herbalist dengan kedokteran terjadi pada tahun 1240 ketika Kaisar Frederick II dari Roma melakukan pemisahan tersebut. Maklumat yang dikeluarkan tentang pemisahan tersebut menyebutkan bahwa masing2 ahli ilmu mempunyai keinsyafan, standar etik, pengetahuan, dan keterampilan sendiri-sendiri yang berbeda dengan ilmu lainnya. Dengan keluarnya maklumat kaisar ini, maka mulailah sejarah baru perkembangan ilmu farmasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka lambang Ilmu Farmasi dan Kedokteran Berbeda. Ilmu Farmasi memakai lambang cawan dililit ular sedangkan kedokteran tongkat dililit ular.
Perkembangan ilmu farmasi kemudian menyebar hampir ke seluruh dunia. Mulai Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa Barat. Sekolah Tinggi Farmasi yang pertama didirikan di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1821 (sekarang sekolah tersebut bernama Philadelphia College of Pharmacy and Science). Setelah itu, mulailah era baru ilmu farmasi dengan bermunculannya sekolah-sekolah tinggi dan fakultas2 di universitas.
Peran organisasi keprofesian atau keilmuwan juga ditentukan perkembangan ilmu farmasi. Sekarang ini banyak sekali organisasi ahli farmasi baik lingkup nasional maupun internasional. Di Inggris, organisasi profesi pertama kali didirikan pada tahun 1841 dengan nama "The Pharmaceutical Society of Great Britain". Sedangkan, di Amerika Serikat menyusul 11 tahun kemudian dengan nama "American Pharmaceutical Association". Organisasi internasionalnya akhirnya didirikan pada tahun 1910 dengan nama "Federation International Pharmaceutical".
Sejarah industri farmasi modern dimulai 1897 ketika Felix Hoffman menemukan cara menambahkan dua atom ekstra karbon dan lima atom ekstra karbon dan lima atom ekstra hidrogen ke adlam sari pati kulit kayu willow. Hasil penemuannya ini dikenal dengan nama Aspirin, yang akhirnya menyebabkan lahirnya perusahaan industri farmasi modern di dunia, yaitu Bayer. Selanjutnya, perkembangan (R & D) pasca Perang Dunia I. Kemudian, pada Perang Dunia II para pakar berusaha menemukan obat-obatan secara massal, seperti obat TBC, hormaon steroid, dan kontrasepsi serta antipsikotika.
Sejak saat itulah, dunia farmasi  terus berkembang dengan didukung oleh berbagai penemuan di bidang lain, misalnya penggunaan bioteknologi. Sekolah-sekolah farmasi saat ini hampir dijumpai di seluruh dunia. Kiblat perkembangan ilmu, kalau bolehh kita sebut, memang Amerika Serikat dan Jerman (karena di sanalah industri obat pertama berdiri).
Bagaimana dengan perkembangan farmasi di Indonesia? Perkembangan farmasi boleh dibilang dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada tahun 1896. Kemudian, terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah mengimpor produk farmasi jadi ke Indoneisa. Perusahaan-perusahaan lokal pun bermunculan, tercatat ada Kimia Farma, Indofarma, Biofarma, dan lainnya. Di dunia pendidikan sendiri, sekolah tinggi atau fakultas farmasi juga dibuka di berbagai kota. 

Farmasi sesungguhnya adalah salah satu cabang dari ilmu kesehatan. Hampir pada setiap STIKES, ada jurusan Farmasi, namun tidak selalu. Biasanya hanya STIKES yang punya jurusan lengkap yang membuka jurusan Farmasi seperti di STIKES Al-Irsyad Cikacap stikesalirsyadclp.ac.id misalnya. Walaupun bagian dari ilmu kesehatan, Farmasi lebih berfokus pada dasar-dasar seluk beluk mengenai obat-obatan.

Kuliah di jurusan farmasi, ilmu yang dipelajari adalah berupa ilmu untuk membuat sediaan farmasi yang baik (Farmasetika, Bioteknologi Farmasi, Teknologi Sediaan Padat, Analisis Sediaan Farmasi, dll). Sediaan farmasi dapat berupa obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetika, vitamin, sabun, shampoo, dan lain sebagainya.

Tidak sekedar itu, farmasi juga mempelajari ilmu yang berkaitan dengan tubuh manusia baik anatomi, fisiologi, patofisiologi, dll seperti ilmu biomedik, biologi sel dan molekuler, biokimia, patobiokimia, dll. Beberapa ilmu lain yang dipelajari antara lain farmakologi, farmasi fisika, mikrobiologi, dll.

Lulusan dari jurusan farmasi ini biasanya kemudian disebut dengan ‘Farmasis’. Gelarnya, jika berasal dari jenjang D3 adalah A.Md.Far. Jika dari jenjang S1 maka gelarnya dalah S.Farm.
Seorang farmasis kelak setelah lulus akan dihadapkan pada aktifitas atau pekerjaan yang membutuhkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran. Maka, jika anda hendak mengambil jurusan farmasi dan menjadi farmais, persiapkanlah untuk memiliki karakter-karakter tersebut.

Selama kuliah menempuh studi di jurusan farmasi, akan menghadapi banyak legiatan penelitian, hafalan dan praktik kerja disamping kuliah reguler di kampus. Semuanya tentu saja yang berkaitan dengan pembuatan serta pemahaman seputar obat-obatan dan bahan-bahan penyusunnya.

Prospek Lulusannya bagaimana?

Soal prospek lulusan farmasi, jangan ditanya. Untuk saat ini lulusan farmasi adalah salah satu lulusan yang memilik prospek cerah. Mengapa demikian? Karena bidang kerjanya sangat luas, tanpa banyak orang yang tahu. Contoh beberapa tempat yang memerlukan tenaga farmasi antara lain:
1. Bidang pemerintahan, terutamanya di Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, Puskesmas dan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
2. Bagian administrasi pelayanan obat di instansi pemerintahan , polri, maupun TNI.
3. Menjadi dosen pada departemen pendidikan nasional sebagai dosen di bidang farmasi.
4. Bagian apotek atau instalasi farmasi pada berbagai Rumah Sakit.
5. Pada bidang industri obat-obatan misalnya: Kalbe Farma, Bayer, mead Johnsons, dan lain-lain.
6. Pada bidang industri Kosmetik, seperti Mustika ratu, martha Tilaar, Wardah, dan lain-lain.
7. Pada bidang industri makanan seperti Wings Food, Indofood, dan lain-lain.
8. Pada bidang jamu dan obat tradisional seperti air mancur, sido muncul, nyonya meneer, atau deltomed.
9. Pada bidang industri dan perdagangan yang menjadi penjamin mutu, standar keamana dan kualitas produk makanan, obat-obatan maupun kosmetik seperti Sucofindo misalnya.

Tak hanya yang disebutkan diatas, bahkan seorang farmasis bisa sampai diterima bekerja di bank. Hal ini terjadi karena lulusan farmasi lebih sering didapatkan sebagai orang yang terbiasa untuk teliti dan terlatih untuk tekun. Tentu saja jenis orang seperti inilah yang dicari oleh bidang perbankan.

Dari penjelasan di atas kita bisa melihat bahwa ternyata prospek seorang lulusan farmasi untuk mendapat lapangan pekerjaan sekaligus mengabdikan diri kepada masyarakat tidak sekedar pada satu tempat di apotek atau rumah sakit saja tapi bisa lebih luas dari itu.

Namun sejalan dengan peluang yang ada, muncul pula tantangan tersendiri bagi lulusan dan peguruan tinggi farmasi. Selain yang telah disebutkan di awal, bahwa masih banyak yang belum mengenal apa itu sebenarnya ilmu Farmasi termasuk peluang pekerjaan apa saja yang tersedia bagi lulusan lulusan farmasi tersebut.

Maka di sinilah perlunya sosialisasi kepada masyarakat umum tentang pentingnya kehadiran seorang farmasis yang sebenarnya memiliki andil penting serta tanggung jawab dalam bidang kesehatan. Bukan hanya sebagai pendamping dokter sebagai penanggung jawab obat-obatan untuk pasien semata. Sehingga harapannyadapat menarik minat terutamanya dari kaum muda untuk memasuki jurusan farmasi. Selain prospek kerjanya yang masih sangat luas, juga karena lulusan farmasi indonesia khususnya yang menjadi Apoteker masih sangat kurang.

Tapi, apakah itu Apoteker?

Apoteker adalah orang yang memiliki dasar pendidikan dan keterampilan dibidang farmasi. Jadi seorang farmasis dapat menjadi apoteker dengan terlebih dahulu mengikuti pendidikan profesi Apoteker. Setelah lulus dari pendidikan profesi Apoteker ia mendapat tambahan gelar Apt (Apoteker). Seorang apoteker diberi wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan aktifitas kefarmasian. Tugas utamanya menurut UU kesehatan no. 36 tahun 2009 adalah meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat & obat tradisional.

Saat ini di Indonesia baru ada sekitar 50 ribu-an apoteker. Sedangkan rasio apoteker di Indonesia masih 1 berbanding 8000. Dimana jumlah ini masih jauh dari kata ideal. Contoh nyata bisa kita saksikan dirumah-rumah sakit, yang kebanyakan hanya menyediakan satu atau dua orang apoteker saja.
Hasil gambar untuk mengenal farmasi